Masuk TV ni yee!!!



Ini adalah cerpenku yang aku buat waktu kelas X untuk tugas B.Indonesia, bahasanya memang agak kaku sih menurutku, terus ceritanya juga biasa aja. Tapi inilah karyaku yang bisa ku tulis, untuk semacam bisa dibilang adalah kenangan (bahasa kurang efektif :D). Ini adalah kisah nyataku (hehe lebay). Yang mau baca silahkan...^^




         Kriiiingg….. Alarm jamku berbunyi kencang. Suasana dirumah masih tampak sepi dan hening. Kerena tidur terlalu malam, aku tidak beranjak dari tempat tidurku. Dan menekan tombol off pada jamku yang sedang berbunyi. Sementara selimut berantakan di bawah tempat tidur  karena tingkah tidurku yang tidak karuan. Kamarku seperti kapal pecah yang terdampar. Pagi itu terasa dingin sekali, kelopak mataku tergoda untuk terus menutup juga tanganku menarik selimut yang jatuh dilantai untuk menyelimuti supaya terasa lebih hangat. Untung saja waktu itu sekolah masuk siang karena kelas XII sedang melaksanakan try out.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarku. Tokk..tokk..tokk..
“ Mutia, ayo bangun, uda siang nihh.. Bangun..bangun..bangun.. katanya kamu mau ikut test di sekolah ?” ibuku mengingatkanku.
“ Astaghfirullahaladzim… aku teringat sesuatu, aku harus mengikuti test karena masih ada nilai yang kurang. Aku langsung terbangun dan spontan loncat dari tempat tidurku untuk segera mandi.
Setelah lima belas menit kemudian aku bersiap untuk berangkat ke sekolah lebih awal. Sedangkan temanku yang lainnya juga banyak yang mengulang atau memperbaiki nilai pada pelajaran kimia dan aku bahasa Inggris. Ibu mengantarkanku ke sekolah dengan mengenakan pakaian yang rapi dan cantik.
“ Ibu mau kemana, kok kelihatannya rapi dan cantik sekali!” kataku memuji agar diberi uang saku lebih(sambil menengadahkan tangan dan meringis).
“ Kamu ini ada-ada saja. Ibukan biasanya juga begini!” Sambil meberikan uang dua lembar 5 ribu.
“ Terima kasih, bu!” Aku pun menyalami ibu dan mengucapkan salam sambil menutup pintu mobil. Kemudian menyeberangi jalan dan berlari-lari menuju ruang guru.
“ Oh tidak, aku terlambat!!!”. Teman-temanku sudah mulai mengerjakan soal-soal yang telah diberikan. Dan aku memberi salam kepada Bu.Evi dan meminta maaf karena sudah terlambat.
“I’m sorry mom, I’m late!” (Maaf bu, saya terlambat)
“ Oh…, no problem, Mutia.” Jawab guru bahasa Inggris yang terkenal dengan sifatnya yang tegas sambil tersenyum sinis padaku.  Aku merasa bersalah dan tidak enak kepadanya karena aku telah lalai. Dan aku pun mulai mengerjakan soal dengan teliti.
***


Setelah selesai mengerjakan soal yang lumayan lebih mudah, aku pun beranjak dari ruang guru. Berpamitan pada Bu.Evi dan kembali ke kelasku yang lumayan jauh dari ruang guru yaitu kelas X.8. Aku berjalan sendiri sambil melihat-lihat di sekitar lapangan sekolah. Sesampai di kelas, “Lho…! Kok kosong?”. Aku baru sadar kalau kelasku untuk sementara di pindah di ruang kelas XII IPS 2 yang berada di pojok deretan ruang guru. Dengan terpaksa aku kembali kesana dengan napas yang tidak beraturan karena sambil berlari-lari dan bel sudah berbunyi tanda pelajaran akan di mulai. Keringatku mulai bercucuran membanjiri mukaku yang hitam tetapi manis lho.Hehe.
Di kelas teman-teman sudah duduk ditempatnya masing-masing tetapi juga ada yang bergerombol di kursi paling biasa. Ada yang berteriak-teriak juga ada yang bermain sepak bola di kelasku. Hal seperti itu sudah biasa tapi anaknya pintar-pintar lho.
Jam pelajaran pertama adalah Pendidikan Kewarganegaraan atau Pkn. Pak Djuari datang ke kelasku tepat waktu dan mengajar seperti biasanya seperti hari-hari sebelumnya. Dan kami pun mendengarkan beliau dengan tenang dan baik. Teettt, bel berbunyi tanda bergantinya pelajaran dan pelajaran Pkn berakhir. Dilanjutkan pelajaran Fisika yang menurut saya membosankan karena guru yang mengajarnya pun kurang jelas. Fisika adalah pelajaran yang membuat otakku lebih berpikir dengan keras sampai-sampai rambut bisa rontok karena memikirkan rumus-rumus yang tiada habisnya.
Jam menunjukkan pukul 13.00 aku harus meminta izin untuk pulang karena akan mengikuti lomba catur tingkat provinsi di Surabaya. Aku mulai mengikuti olahraga catur sejak kelas 3 sekolah dasar. Teman catur yang lain sudah berkumpul dan segera berangkat ke Surabaya bersama rombongan cabang olahraga lain. Tapi aku harus mengikuti pelajaran sampai selesai karena aku tidak ingin tertinggal pelajaran. Untung saja pertandingannya dimulai esok harinya, dan aku bisa menyusul kesana dengan diantarkan Ayah dan Ibuku yang selalu mendukungku. Sekarang pukul 3 sore, pelajaran selesai dan waktunya pulang. Aku juga tidak lupa menitipkan surat izin kepada sekretaris kelasku untuk izin beberapa hari.
Sepulang sekolah setelah shalat ashar, aku merebahkan tubuh di kasurku yang empuk dengan seprei yang bergambar bunga-bunga yang segar. Seperti tidur di taman yang indah dengan dikelilingi bunga yang berwarna-warni tertiup angin.
“ Hmm.. sungguh hari yang melelahkan. Ya Allah, kuatkanlah aku menghadapi hidup ini yang semakin hari semakin banyak sekali ujian dan cobaan yang ku alami.” Aku memejamkan mata sejenak untuk sedikit mengurangi kelelahanku. Beberapa menit kemudian aku segera menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamarku. Juga menyiapkan perlengkapan dan peralatan yang harus dibawa ke Surabaya.
Adzan maghrib berkumandang, aku, Ayah, Ibu, dan adik menyiapkan diri masing-masing untuk solat berjamaah di rumah. Aku segera mengambil air wudlu di kamar mandi. Setelah melakukan shalat dengan khusyuk, aku berdoa semoga saat pertandingan catur besok aku diberi kemudahan untuk mengalahkan lawan-lawan yang berasal dari beberapa daerah dan lolos ke babak selanjutnya, yang sering disebut PORPROV atau Pekan Olahraga Provinsi. Amin.
“ Ayah, ibu, doakan aku supaya bisa mengalahkan lawan dan lolos ke babak selanjutnya ya?”
“  Iya nduk, kamu harus lebih rajin latihan!”
“ Sipp yah!!” jawabku sambil mencium tangan Ayah dan Ibuku selesai shalat.
Sehabis maghrib aku bersiap-siap untuk berangkat dan mengangkat tas ranselku ke dalam mobil. Tidak lupa makanan ringan dan minuman soft drink dibawa untuk camilan nanti. Ayah
mengemudikan mobil dengan hati-hati dan santai. Disepanjang perjalanan aku memejamkan mata sambil memakai headseat di telingaku mendengarkan musik-musik pop kesukaanku.
Na..na..na.. aku bernyanyi-nyanyi kecil. Cittt..tiba-tiba mobil berhenti secara mendadak dan aku terpental ke depan membentur kursi didepanku.
 “Aduuhhh!!” ada apa yah, bu ?”
“ Mobil depan rem mendadak, ayah kaget dan langsung menginjak rem! Kamu nggak kenapa-kenapa kan?”
“ Oh.. Nggak kok bu, hati-hati ya yah?”
Saat memasuki kawasan porong, mobil-mobil masih mengantri panjang karena macet sekali. Dan sampai di Surabaya pun juga sangat malam. Kami mencari-cari alamat tempat menginapnya, tetapi tidak sampai-sampai karena jalannya terlalu banyak dan ribet. Dan akhirnya ayah menyewa ojek untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan.
Aku pun sampai ke penginapan dan disambut gembira oleh teman-temanku yang sudah datang dari tadi sore. “ Apakah kamu siap Mutia untuk tanding besok?”tanya sahabatku, Sasa.   “Siap, pasti siap!!. Sebelum Ayah dan ibuku kembali pulang, aku diajak untuk makan malam diluar.
“ Mutia, ayo ikut ibu, kamu tadi belum makan kan?” Tanya ibuku.
“ Iya bu, aku juga sudah lapar.hihi. Sambil meringis menampakkan giginya.” Kami mencari restaurant di sekitar tempat penginapan yang tidak jauh dari penginapan.
Setelah selesai makan, ayah berkata “ Kamu harus menang dan dan pasti bisa mengalahkan mereka. Jangan lupa shalat dan berdoa ya?” sahut ibu. “ Iya amin yah, pasti bu” sambil tersenyum bangga.
***
Keesokan harinya…
Aku bangun pagi-pagi bersama teman-tenaku untuk melakukan lari pagi. Agar pikiran menjadi fresh dan tenang saat bertandiing nanti pukul 9 pagi. Kami mengelilingi taman sambil menghirup udara pagi yang segar meskipun disana panas. Kemudian kami kembali ke kamar untuk mandi, sarapan dan persiapan nanti ketika bertanding. Setelah semua selesai
“ Anak-anak semua siap ?” Tanya pak official yang selalu mendampingi kami saat kami pergi bertanding.
“ Siapp! Jawab kami serempak dengan semangat yang berkobar-kobar. Berbagai macam pengarahan diberikan kepada kami semua, agar kami siap mental, berhati-hati dalam mengambil keputusan, tidak tergesa-gesa, dan yang penting bermain dengan bagus. Menang kalah sudah biasa yang penting kita bisa bermain dengan bagus dan maksimal.” Setelah pengarahan yang diberikan pelatih, kami melakukan tos bersama. Caturr !!! Lolos!!! Jawab kami kompak dengan penuh harapan agar kita semua lolos. Pukul 8.30 kami menuju ke tempat pertandingan dengan hati yang deg-degan seperti biasanya saat sebelum pertandingan dimulai.
Babak pertama akan dimulai, hatiku semakin tak beraturan tapi kucoba untuk tenang menghadapi ini semua. Aku menenangkan pikiranku dengan berdoa dan minum segelas air putih yang telah disediakan official.




“ Semangat Mutia.. Kamu pasti bisa!! Menghibur hati ini sambil menarik napas dan menghembuskannya.” Sebelum pertandingan dimulai, ada banyak sekali orang yang meliput kegiatan ini untuk ditayangkan di televisi. Aku menghiraukan kesempatan masuk tv ini, hehe, karena masih focus pada papan catur yang sudah tertata dan siap dimainkan.
Babak demi babak telah kulewati. Alhamdulliah akhirnya aku masuk 10 besar yang artinya aku lolos ke babak selanjutnya.
“ Hooree!!! Teriak kami bersama-sama. Ternyata sebagian dari kami lolos semua dan ada dua anak yang tidak beruntung. Kami semua mencoba menghibur mereka agar tetap semangat dan terus berkarya.
***
Kami kembali ke Malang pada hari Minggu sore karena hari Senin sudah masuk sekolah. Aku istirahat secukupnya untuk kegiatan sekolah besok. Aku juga tidak lupa menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru, kepada teman dekatku, Ivon dan Vella.
Aku berangkat sekolah pagi-pagi benar karena aku terbiasa berangkat lebih awal agar tidak terlalu buru-buru yang menyebabkan ada saja yang tertinggal. Saat masuk ke kelas teman-teman menyambutku gembira dan mereka mengintrogasiku seperti wawancara saja. Aku menceritakan semuanya yang telah kujalani kepada teman-temanku, mereka juga merespon dengan memberikan tepuk tangan dan selamat kepadaku.
Tiba-tiba terdengar suara dari kursi sebelahku,
“ Cieeile ada yang masuk tv tuh!!
“ Wee Mutia masuk tv.. Mutia masuk tv.! Teriak Fauqi dan Bagas atau Bagong si anak jail plus hiperaktif dikelas X.8. Aku kaget dan bertanya-tanya, io tah rek?? Dan mereka selalu membahas soal itu pada hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Seperti waktu aku menjawab pertanyaan dari guru dan jawabanku benar, mereka selalu berkata, “ Wee Mutia masuk tv.!!”
Dasar anak-anak aneh. hehe
Meskipun demikian aku sangat senang sekali dan bangga pada diriku, tidak sia-sia perjuanganku selama ini. Upss, tapi nggak boleh sombong dulu karena sombong perilaku yang tercela dan tidak ada gunanya. Dan ingatlah bahwa diatas langit masih ada langit. Oke teman-teman. :-)

















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Smile :)

The Perspective of live